Cerpen Iwan RS
Penumpang yang duduk di sebelahnya menyodorkan salak. Kang Dalimin yang dari tadi melempar pandang ke luar jendela bus pun melirik.
“Cobalah, Kang,” kata penumpang--yang dari basa-basi singkatnya, punya tujuan sama, Jogja.
“Salak Pondoh. Enak lho, Kang. Kalau mau ambillah….”
Merasa terpancing dengan keramahan si penumpang tadi, Kang Dalimin menjumput sebiji salak yang ditawarkan. Kang Dalimin mengucapkan terima kasih, mengupas dan mengunyahnya. Setelah itu, ia kembali melempar pandang ke luar jendela. Tak diliriknya orang yang telah mengasih salak. Mukanya masam. Sesekali tampak ia terkantuk-kantuk, tapi selalu tak dapat memejamkan mata. Kerunyaman tengah mengunjungi pikirannya.
Awalnya begini. Lantaran segala usaha yang pernah dilakoninya selalu gagal, istrinya mendesak agar dirinya meminta semacam ‘amalan’ kepada kyai.
Penumpang yang duduk di sebelahnya menyodorkan salak. Kang Dalimin yang dari tadi melempar pandang ke luar jendela bus pun melirik.
“Cobalah, Kang,” kata penumpang--yang dari basa-basi singkatnya, punya tujuan sama, Jogja.
“Salak Pondoh. Enak lho, Kang. Kalau mau ambillah….”
Merasa terpancing dengan keramahan si penumpang tadi, Kang Dalimin menjumput sebiji salak yang ditawarkan. Kang Dalimin mengucapkan terima kasih, mengupas dan mengunyahnya. Setelah itu, ia kembali melempar pandang ke luar jendela. Tak diliriknya orang yang telah mengasih salak. Mukanya masam. Sesekali tampak ia terkantuk-kantuk, tapi selalu tak dapat memejamkan mata. Kerunyaman tengah mengunjungi pikirannya.
Awalnya begini. Lantaran segala usaha yang pernah dilakoninya selalu gagal, istrinya mendesak agar dirinya meminta semacam ‘amalan’ kepada kyai.





